Sabtu, 01 September 2012

Suri Tauladan yang Baik

Pemimpin umat/pemerintah identik dengan keluarga. Jika kepala keluarga memberi nasihat kepada anak-anaknya agar berakhlak luhur, sementara dirinya masih melakukan dosa-dosa besar, maka nasihat-nasihatnya tidaklah berarti. Demikian pula para pemimpin atau penguasa yang hidup dalam kemewahan, tidak becus mengelola harta rakyat, dan hanya mengurus kepentingan pribadinya. Maka imbauannya untuk mengabdi demi kemaslahatan bangsa akan sia-sia belaka. Seruan-seruan tersebut takkan pernah didengr, bahkan sebaliknya ditertawakan. Karena itu seorang penyair berkata:
"Jangan melarang suatu tindakan sementara kamu melakukannya. Itu teramat hina jika kamu melakukannya. Karena itu rakyat tergantung pada agama pemimpinnya. Agama yang dimaksud adalah perangai dan keyakinan yang dianut sang pemimpin yang akan diikuti oleh anggotas masyarakatnya."
 
Akhlak luhur yang diserukan Rasulullah SAW benar-benar terpantul dalam diri beliau. Inilah yang menjadikan dakwahnya berhasil dan para sahabatnya mengikuti seluruh tingkah lakunya. Beliau adalah sumber cahaya Islam yang menerangi pekatnya kebodohan dan keangkaramurkaan dari timur hingga barat. Dalam kurun waktu tidak lebih dari seperempat abad, wilayah Islam membentang dari Persia di timur hingga negeri-negeri Maghribi di Afrika. Allah SWT berfirman:
" Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari akhir dan dia banyak menyebut nama Allah." [QS 33:21]
 
Rasulullah SAW dikenal lemah lembut, tapi juga seorang prajurit yang gagah berani. Beliau tak peduli dengan segala jenis marabahaya dan ancaman selama berjuang di jalan Allah SWT serta meninggikan syiar agama.

Ayat tersebut diturunkan agar kaum muslim meneladani keberanian Rasulullah SAW. Dalam perang uhud misalnya, gigi geraham Rasulullah SAW patah dan darahnya mengalir membasahi wajahnya. Demikian pula pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib yang terbunuh dan jenazahnya dicincang oleh Hindun binti Utbah. Kendati demikian, beliau tetap bertempur dengan gigih.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gunakanlah Bahasa yang Santun